Selasa, 15 November 2011

BELUM TENTU



Pada suatu hari,Budi sedang berjalan jalan ke rumah temannya. Sesampai di sana,ia bertemu dengan seorang pengemis yang sudah sangat tua renta tak berdaya,dan meminta setetes air yang ada di kantongnya. Budipun memberikannya. Budipun meninggalkan pengemis itu dengan memberinya tempat minumnya itu. Ia pun mulai mengetuk pintu rumah temannya yang bernama Ahmad.
                “Assalamualaikum,Ahmad!”
                “Wa’alaikumsalam. Silahkan masuk!”jawab Ahmad
                Kamipun bicara banyak,mulai dari pelajaran,dan lain-lain.
                Budipun diajak Ahmad untuk pergi ke toko pak Joko. Sesampainya di sana,Budi ditawari untuk memilih barang apa yang mau dibelinya.
                “Bener nih?”
                “Iya! Tak apa!”
                “Pak,saya mau beli bola sepak bola yang warnya putih biru itu,pak!”
                “Ini,dek!”
                Setelah selesai membayar,mereka akhirnya kembali pulang. Budi pun dalam hatinya berpikir betapa enaknya hidup Ahmad yang sebar berkecukupan,apa aja yang dia mau,akan terturuti.
                Setelah sampai di rumah Ahmad,mereka berdua langsung masuk ke kamar Ahmad. Di ruang tamu terdengar suara teriakan seorang laki-laki yang tak tahu siapa itu. Ahmad pun mengeraskan suara gitarnya yang ia petik lebih keras. Budipun bertanya kepada Ahmad,suara siapa itu,walau sebenarnya Budi tidak sopan karena lancing menanyai hal itu,karena hal itu merupakan sesuatu yang sangat privasi dari Ahmad.
                “Itu adalah suara kakakku yang laki,ia sering marah-marah kalau lagi kambuh penyakit jiwanya,karena ia sebelumnya dipukul oleh gurunya kerena masalah sepele aja. Dokter bilang kalau dia tersinggung sedikit saja,dia akan kehilangan kontrol emosinya!”
                “Oh begitu,ya! Sabar saja,ya! Dan mudah-mudahan ALLAH membalas kesababaran keluargamu dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui!”
                “Amien!”
                Waktupun sudah mulai menghitam,Budipun akhirnya pamit untuk pulang.
                DI perjalanan,Budi berpikir tentang hal yang tadi. Ia sadar bahwa cobaannya dengan cobaan orang lain berbeda,dan semua diuji dari ALLAH kepada hambanya. Dan tak mungkin ALLAH memberikan cobaan kepada hambanya melebihi batas kemampuannya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar