Selasa, 12 Agustus 2014

KING ABDULLAH BIN ABDUL AZIZ


Abdullah dari Arab Saudi
Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud
عبد الله بن عبد العزيز آل سعود
Memerintah
1 Agustus 2005
2 Agustus 2005
Pendahulu
Pewaris
Masa jabatan
26 Januari 1963 – 16 November 2010
Pendahulu
Saad bin Saud bin Abdul Aziz
Pengganti

Nama lengkap
Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Saud
Ayah
Ibu
Lahir
Agama
Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud (Arab: عبد الله بن عبد العزيز آل سعود, lahir 1 Agustus 1924; umur 90 tahun)[2] adalah Raja Arab Saudi yang keenam. Setelah sebelumnya bergelar Pangeran Abdullah, ia mencapai puncak kekuasaan pada 1 Agustus 2005, sesaat setelah wafatnya Raja Fahd. Ia telah tampil sebagai penguasa de facto dan mewakili peran Raja Arab Saudi sejak tahun 1995, yaitu sejak Raja Fahd mengalami penurunan kesehatan akibat stroke. Pada 3 Agustus 2005 ia terpilih menjadi raja setelah wafatnya raja terdahulu, yang adalah saudara seayahnya.[3] Salah seorang anaknya, Pangeran Mutaib bin Abdullah, menggantikan jabatannya sebagai komandan Dewan Garda Nasional Saudi.
Riwayat Hidup
Ia adalah salah satu dari 37 putra Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud (pendiri Arab Saudi modern) yang lahir dari rahim Fahada binti Asi-al Syuraim yang adalah istri kedelapan Abdul Aziz dari keluarga Rasyid. Ia menerima pendidikan di Sekolah Kerajaan Prince's School dari pejabat-pejabat dan tokoh-tokoh intelektual keagamaan dan dibesarkan di bawah pengawasan ketat Raja Abdul Aziz yang adalah ayahnya. Pangeran Abdullah dikenal sangat kuat memegang ajaran agama dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap rakyat dan Tanah Air. Ia langsung mendapat pendidikan dari para ulama senior Arab Saudi di bidang agama, sejarah, politik, dan sosiologi.
Karier
Jabatan yang pernah disandang
Abdullah juga pernah menjabat Perdana Menteri dan Komandan Dewan Garda Nasional. Ia juga pimpinan Supreme Economic Council, Wakil Presiden High Council for Petroleum and Minerals, Presiden King Abdulaziz Centre for National Dialogue, Wakil Pimpinan Council of Civil Service, dan anggota Military Service Council.
Komandan satuan elit


Raja Abdullah dari Arab Saudi
Pada tahun 1962, ia ditunjuk sebagai komandan satuan elit Pengawal Nasional karena pengalamannya yang luas dalam urusan Badui dan kabilah di padang pasir semenanjung Jazirah Arab. Sejak menjabat komandan dan Pengawal Nasional, sosoknya sudah tak bisa dipisahkan dari kesatuan elite tersebut. Pada anggota Pengawal Nasional berasal khusus dari anak cucu Mujahidin yang pernah berjuang bersama Raja Abdul Aziz dalam menyatukan Jazirah Arab dan kemudian mendirikan negara Arab Saudi.
Pangeran Abdullah berhasil memimpin Pengawal Nasional bukan semata sebagai lembaga militer tetapi juga wadah sosial dan budaya anggotanya. Semenjak ia dipercaya sebagai komandan pengawal nasional telah dilakukan restrukturisasi dan resionalisasi sesuai dengan manajemen militer modern. Sebagai bentuknya, ia mendirikan akademi militer untuk mendidik dan menempa kandidat anggota dan perwira pengawal nasional. Akademi militer tersebut dinamakan Institut Militer Raja Khalid bin Abdul Aziz. Institut ini diresmikan olehnya pada 18 Desember 1982.
Ia menangani sendiri mega-proyek pengembangan pengawal nasional. Karena, lembaga itu merupakan titik balik sejarah lembaga satuan elite pengawal nasional. Di antara mega-proyek itu seperti pembentukan divisi gabungan dalam jajaran pengawal nasional yang terdiri dari satuan logistik, intelijen, dan infanteri. Pangeran Abdullah juga mendirikan kompleks militer dan tempat latihan khusus untuk satuan elite pengawal nasional.
Sebagai putra mahkota

Raja Abdullah bersama Presiden George W. Bush di dalam Prairie Chapel Ranch
Pada 29 Maret 1975, ia ditunjuk sebagai Deputi Kedua Dewan Kabinet Arab Saudi. Selain ditunjuk oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz sebagai putra mahkota pada 13 Juni 1982. Pada hari itu juga, Pangeran Abdullah dipromosikan sebagai Deputi Utama Dewan Kabinet Arab Saudi. Sejak kesehatan Raja Fahd bin Abdul Aziz menurun, praktis secara de facto mengendalikan kekuasaan dan kebijakan dalam dan luar negeri. Ia diangkat sebagai bupate de facto regent pada tahun 1996. Ia amat menaruh perhatian pada upaya pelestarian budaya dan khazanah yang melibatkan para ulama dari dunia Arab dan Islam.
Program privatisasi
Sejak 1997, dia telah meluncurkan program privatisasi dengan menghapus daftar larangan berusaha dan membiarkan perusahaan publik tumbuh secara bebas. Kebijakan luar negerinya lebih pro-Arab daripada Barat. Pada 1980, ia berhasil sebagai mediator perundingan dalam konflik Suriah-Yordania. Ia juga menjadi arsitek Perjanjian Taif 1989 yang mengakhiri perang sipil di Lebanon pada periode 1975-1990. Selain, meningkatkan kembali hubungan bilateral dengan Mesir, Suriah, dan Iran.
Seminar Arab Saudi-Palestina
Pada April 2001, Pangeran Abdullah menyelenggarakan seminar tentang sejarah hubungan Arab Saudi dan Palestina. Seminar itu mendatangkan tokoh-tokoh Arab. Dalam seminar itu dibahas isu dukungan Arab Saudi terhadap perjuangan rakyat Palestina sepanjang sejarahnya dan dalam berbagai aspek. Dari seminar tersebut disimpulkan bahwa Arab Saudi telah memberi dukungan besar perjuangan rakyat Palestina meskipun Arab Saudi tidak termasuk negara Arab garis depan yang berbatasan langsung dengan Israel.
Mediator
Konflik Arab-Israel
Dengan bobot kapasitasnya di dunia Arab dan Islam, Arab Saudi senantiasa hadir secara kuat dalam kancah konflik Arab-Israel. Pemerintah Arab Saudi ikut menjadi mediator konflik militer Palestina-Yordania pada September 1970. Konflik ini dikenal dengan Black September. Konflik itu berakhir dengan keluarnya Yasser Arafat (1929-2005) dari Yordania menuju Lebanon.
Konflik internal Arab

Arab Saudi juga tampil sebagai mediator dalam upaya menengahi perbedaan pendapat antara Suriah dan Palestina dengan Mesir. Di pihak lain menyusul meletusnya perang saudara di Lebanon tahun 1975. Upaya damai tersebut dimaksudkan untuk memelihara kesatuan potensi kekuatan Arab dalam menghadapi Israel, sehingga menjadi kekuatan tawar-menawar dalam perundingan damai dengan Israel. Upaya damai Arab Saudi yang terkenal adalah inisiatif damai yang ditawarkan Raja Fahd bin Abdul Aziz pada forum KTT Arab tahun 1982 di Fez (Maroko).
Proposal damai dengan Israel
Saat itu, Raja Fahd menawarkan inisiatif damai berdasarkan Resolusi PBB Nomor 242 dan Nomor 338. Untuk pertama kalinya, negara-negara Arab siap mengakui Israel sebagai negara yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara Arab. Pertengahan Februari 2002, Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz mengungkapkan kepada wartawan The New York Times bernama Thomas Friedman tentang proposal damai mengenai Israel.
Proposal yang disebut Proposal Damai Arab Saudi semakin strategis karena dilontarkan ketika negara-negara Arab bersiap menggelar KTT Arab di Beirut (Lebanon) pada 27-28 Maret 2002. Di samping itu, Proposal Damai Arab Saudi disampaikan ketika aksi kekerasan Israel-Palestina mencapai titik terburuknya sejak Intifada Al Aqsa pada 28 September 2000. Proposal itu sendiri merupakan pengembangan inisiatif damai yang pernah dilontarkan Raja Fahd 20 tahun berlalu. Ketika itu, Raja Fahd hanya siap mengakui negara Israel. Tetapi, Pangeran Abdullah lebih jauh dari itu yakni menjalin hubungan normal dengan Israel dalam semua aspek kehidupan. Aspek itu seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, wisata, dan sebagainya.
Diangkat sebagai Raja
Ia semakin leluasa menjalankan pemerintahan setelah dinyatakan secara resmi sebagai raja Arab Saudi sejak wafatnya Raja Fahd bin Abdul Aziz pada 1 Agustus 2005. Sementera, Menteri Pertahanan Sultan bin Abdul Aziz dinyatakan sebagai pangeran mahkota. Di bidang sosial-politik, Abdullah menyelenggarakan dialog nasional yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat dan menggelar pemilihan langsung anggota kota praja (Dewan Konsultatif) secara nasional awal tahun 2005. Ia juga membuka kesempatan kepada para pemodal asing untuk menanamkan investasi di bidang eksplorasi dan produksi gas.
Ia diresmikan menjadi Raja pada 3 Agustus 2005. Abdullah juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Komandan Garda Nasional Saudi. Dia diberikan jabatan Komandan Garda Nasional Saudi pada tahun 1963 dan jabatan Wakil Perdana Menteri pada Juni 1982. Dari empat istrinya lahir sepuluh putra dan 10 putri. Sebelum menjadi komandan Garda Nasional, ia menjabat Wali Kota Mekkah. Ia dikenal dekat dengan rezim barat dalam memusuhi pejuang Islam yang lurus. Gaya hidup para pangeran negeri Arab yang biasanya lekat dengan banyak wanita dan kehidupan gemerlap juga tersemat di dirinya.
Pada 22 Oktober 2011, pangeran mahkota Sultan bin Abdul Aziz meninggal dunia di New York, Amerika Serikat karena sakit. Posisi ini kemudian dilimpahkan kepada saudaranya dan juga saudara raja, Pangeran Nayef bin Abdul Aziz yang juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Arab Saudi. Namun pada 16 Juni 2012, pangeran mahkota Nayif bin Abdul Aziz pun meninggal dunia di Swiss karena sakit, setelah baru setahun menjadi Pangeran Mahkota Arab Saudi[4]. Kemudian, Pangeran Salman bin Abdul Aziz, Menteri Pertahanan dan juga adik Raja Abdullah bin Abdul Aziz dibobatkan sebagai pewaris tahta pada 18 Juni 2012[5].
Abdullah dari Arab Saudi
Lahir: 1924
Gelar pemerintahan
Didahului oleh:
Fahd
Raja Arab Saudi
2005 – Sekarang
Petahana
Pewaris takhta:
Pangeran Salman



Pemimpin ISIS Adalah Orang Yahudi, Sebuah Teori Konspirasi

http://cdn.kaskus.com/images/2014/05/03/4706747_20140503112716.jpg
Kekerasan Yang Dilakukan ISIS
http://statik.tempo.co/data/2014/07/07/id_304821/304821_620.jpg
Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi


Belakangan ini, pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Abu Bakr al-Baghdadi mendadak jadi sorotan dunia internasional. Beragam teori konspirasi tentang siapa sebenarnya dirinya pun bermunculan semenjak dia mengumumkan berdirinya kekhalifahan Islam di Irak dan Suriah.

Salah satunya adalah teori yang menyebutkan bahwa al-Baghdadi lahir di Israel dari pasangan suami istri Yahudi. Sebagaimana dilansir oleh Veterans Today, al-Baghdadi adalah keturunan Yahudi dan nama aslinya adalah Elliot Shimon. Media tersebut juga menyebutkan bahwa al-Baghdadi merupakan didikan intelijen rahasia Israel, Mossad. Ia dibayar untuk berperan sebagai pemimpin ISIS.Rumor tersebut awalnya diembuskan oleh sang pembocor rahasia Badan Keamanan Amerika Serikat (NSA), Edward Snowden. Menurut pengakuan Snowden yang dimuat dalam situs globalresearch.ca, si pemimpin ISIS itu dilatih oleh Mossad, juga oleh badan intel dari Inggris dan Amerika Serikat.
Hal ini pun langsung ramai menjadi berita di berbagai media. Salah satu media yang pertama memberitakannya adalah Gulf Daily News.
“Snowden mengatakan bahwa dinas intelijen dari tiga negara, yakni entitas dari Amerika Serikat, Inggris, dan negara Zionis, telah bekerja sama untuk menciptakan organisasi teroris yang mampu menarik perhatian semua ekstrimis dunia menjadi satu wadah, dengan menggunakan strategi yang dinamakan “sarang lebah”,” bunyi laporan media itu.
Namun, kebenaran dari teori tersebut masih bisa diperdebatkan. Pasalnya, dokumen-dokumen rahasia yang dimiliki Snowden, hingga saat ini masih aman di tangan media Washington Post dan dua jurnalis mereka yang pertama mengungkapnya.
Kepada New York Times, Snowden pernah mengatakan bahwa rahasia-rahasia NSA aman dan ia menyerahkannya kepada dua jurnalis yang ia temui beberapa waktu lalu di Hong Kong.
Terlepas dari teori konspirasi yang muncul, al-Baghdadi masih menjadi figur yang misterius bagi publik. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh pendukung Negara Islam, nama asli al-Baghdadi adalah Abu Dua, Ibrahim bin Awad bin Ibrahim Al-Badri Al-Radawi Al-Husseini Al- Samarra’i.
Al-Bagdhadi adalah mantan guru dan memiliki gelar PhD. Lelaki yang sudah menikah itu dikenal memiliki pengetahuan luas dalam bidang kebudayaan dan Syariah Islam.