Abdullah dari Arab Saudi
Raja Abdullah bin
Abdul Aziz Al-Saud
عبد الله بن عبد العزيز آل سعود |
|
Raja Arab Saudi ke-6
|
|
Memerintah
|
1 Agustus 2005
|
2 Agustus 2005
|
|
Pendahulu
|
|
Pewaris
|
|
Komandan Garda Nasional Saudi ke-5
|
|
Masa jabatan
|
26 Januari 1963 – 16 November 2010
|
Pendahulu
|
Saad bin Saud bin Abdul Aziz
|
Pengganti
|
|
Nama lengkap
|
|
Abdullah bin Abdul
Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Saud
|
|
Ayah
|
|
Ibu
|
|
Lahir
|
1 Agustus
1924 (umur 90)
Riyadh, Kerajaan Hejaz |
Agama
|
|
Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud (Arab: عبد الله بن عبد العزيز آل سعود, lahir 1 Agustus 1924; umur 90 tahun)[2] adalah Raja Arab Saudi yang keenam. Setelah sebelumnya bergelar
Pangeran Abdullah, ia mencapai puncak kekuasaan pada 1 Agustus 2005, sesaat setelah wafatnya Raja Fahd. Ia telah tampil
sebagai penguasa de facto dan mewakili peran Raja Arab Saudi sejak tahun 1995,
yaitu sejak Raja Fahd mengalami penurunan kesehatan akibat stroke.
Pada 3 Agustus 2005 ia terpilih menjadi raja setelah wafatnya
raja terdahulu, yang adalah saudara seayahnya.[3] Salah seorang anaknya, Pangeran Mutaib bin
Abdullah, menggantikan jabatannya sebagai komandan Dewan Garda
Nasional Saudi.
Riwayat Hidup
Ia adalah salah satu dari 37 putra Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud (pendiri Arab Saudi
modern) yang lahir dari rahim Fahada binti Asi-al Syuraim yang adalah istri
kedelapan Abdul Aziz dari keluarga Rasyid. Ia menerima pendidikan di Sekolah
Kerajaan Prince's School
dari pejabat-pejabat dan tokoh-tokoh intelektual keagamaan dan dibesarkan di
bawah pengawasan ketat Raja Abdul Aziz yang adalah ayahnya. Pangeran Abdullah
dikenal sangat kuat memegang ajaran agama dan memiliki rasa tanggung jawab yang
besar terhadap rakyat dan Tanah Air. Ia langsung mendapat pendidikan dari para
ulama senior Arab Saudi di bidang agama, sejarah, politik, dan sosiologi.
Karier
Jabatan yang pernah
disandang
Abdullah juga pernah menjabat Perdana Menteri dan
Komandan Dewan Garda Nasional. Ia juga pimpinan Supreme Economic Council,
Wakil Presiden High Council for Petroleum and Minerals, Presiden King
Abdulaziz Centre for National Dialogue, Wakil Pimpinan Council of Civil
Service, dan anggota Military Service Council.
Komandan satuan elit
Pada tahun 1962, ia ditunjuk sebagai komandan satuan elit
Pengawal Nasional karena pengalamannya yang luas dalam urusan Badui dan kabilah
di padang pasir semenanjung Jazirah Arab. Sejak menjabat komandan dan
Pengawal Nasional, sosoknya sudah tak bisa dipisahkan dari kesatuan elite
tersebut. Pada anggota Pengawal Nasional berasal khusus dari anak cucu
Mujahidin yang pernah berjuang bersama Raja Abdul Aziz dalam menyatukan Jazirah
Arab dan kemudian mendirikan negara Arab Saudi.
Pangeran Abdullah berhasil memimpin Pengawal Nasional
bukan semata sebagai lembaga militer tetapi juga wadah sosial dan budaya
anggotanya. Semenjak ia dipercaya sebagai komandan pengawal nasional telah
dilakukan restrukturisasi dan resionalisasi sesuai dengan manajemen militer
modern. Sebagai bentuknya, ia mendirikan akademi militer untuk mendidik dan
menempa kandidat anggota dan perwira pengawal nasional. Akademi militer
tersebut dinamakan Institut Militer Raja Khalid bin Abdul Aziz.
Institut ini diresmikan olehnya pada 18 Desember 1982.
Ia menangani sendiri mega-proyek pengembangan pengawal
nasional. Karena, lembaga itu merupakan titik balik sejarah lembaga satuan
elite pengawal nasional. Di antara mega-proyek itu seperti pembentukan divisi
gabungan dalam jajaran pengawal nasional yang terdiri dari satuan logistik,
intelijen, dan infanteri. Pangeran Abdullah juga mendirikan kompleks militer
dan tempat latihan khusus untuk satuan elite pengawal nasional.
Sebagai putra mahkota
Raja Abdullah bersama Presiden George W. Bush di dalam Prairie Chapel
Ranch
Pada 29 Maret 1975,
ia ditunjuk sebagai Deputi Kedua Dewan Kabinet Arab Saudi. Selain ditunjuk oleh
Raja Fahd bin Abdul Aziz
sebagai putra mahkota pada 13 Juni 1982.
Pada hari itu juga, Pangeran Abdullah dipromosikan sebagai Deputi Utama Dewan
Kabinet Arab Saudi. Sejak kesehatan Raja Fahd bin Abdul Aziz menurun, praktis
secara de facto mengendalikan kekuasaan dan kebijakan dalam dan luar
negeri. Ia diangkat sebagai bupate de facto regent pada tahun 1996.
Ia amat menaruh perhatian pada upaya pelestarian budaya dan khazanah yang
melibatkan para ulama dari dunia Arab dan Islam.
Program privatisasi
Sejak 1997, dia telah meluncurkan program privatisasi
dengan menghapus daftar larangan berusaha dan membiarkan perusahaan publik
tumbuh secara bebas. Kebijakan luar negerinya lebih pro-Arab daripada Barat.
Pada 1980, ia berhasil sebagai mediator perundingan dalam konflik
Suriah-Yordania. Ia juga menjadi arsitek Perjanjian Taif 1989
yang mengakhiri perang sipil di Lebanon pada periode 1975-1990.
Selain, meningkatkan kembali hubungan bilateral dengan Mesir,
Suriah, dan Iran.
Seminar Arab
Saudi-Palestina
Pada April 2001,
Pangeran Abdullah menyelenggarakan seminar tentang sejarah hubungan Arab Saudi
dan Palestina. Seminar itu mendatangkan tokoh-tokoh Arab. Dalam
seminar itu dibahas isu dukungan Arab Saudi terhadap perjuangan rakyat
Palestina sepanjang sejarahnya dan dalam berbagai aspek. Dari seminar tersebut
disimpulkan bahwa Arab Saudi telah memberi dukungan besar perjuangan rakyat
Palestina meskipun Arab Saudi tidak termasuk negara Arab garis depan yang
berbatasan langsung dengan Israel.
Mediator
Konflik Arab-Israel
Dengan bobot kapasitasnya di dunia Arab dan Islam,
Arab Saudi senantiasa hadir secara kuat dalam kancah konflik Arab-Israel.
Pemerintah Arab Saudi ikut menjadi mediator konflik militer Palestina-Yordania
pada September 1970. Konflik ini dikenal dengan Black September. Konflik itu berakhir dengan keluarnya Yasser Arafat (1929-2005) dari Yordania menuju Lebanon.
Konflik internal Arab
Abdullah didampingi Wakil Presiden Amerika Serikat
Dick Cheney
Arab Saudi juga tampil sebagai mediator dalam upaya
menengahi perbedaan pendapat antara Suriah dan Palestina dengan Mesir. Di pihak
lain menyusul meletusnya perang saudara di Lebanon tahun 1975. Upaya damai tersebut
dimaksudkan untuk memelihara kesatuan potensi kekuatan Arab dalam menghadapi
Israel, sehingga menjadi kekuatan tawar-menawar dalam perundingan damai dengan
Israel. Upaya damai Arab Saudi yang terkenal adalah inisiatif damai yang
ditawarkan Raja Fahd bin Abdul Aziz pada forum KTT Arab tahun 1982 di Fez (Maroko).
Proposal damai dengan
Israel
Saat itu, Raja Fahd menawarkan inisiatif damai
berdasarkan Resolusi PBB Nomor 242 dan Nomor 338. Untuk pertama kalinya,
negara-negara Arab siap mengakui Israel sebagai negara yang bisa hidup
berdampingan secara damai dengan negara-negara Arab. Pertengahan Februari 2002, Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz
mengungkapkan kepada wartawan The New York Times
bernama Thomas Friedman tentang
proposal damai mengenai Israel.
Proposal yang disebut Proposal Damai Arab Saudi
semakin strategis karena dilontarkan ketika negara-negara Arab bersiap
menggelar KTT Arab di Beirut (Lebanon) pada 27-28 Maret 2002.
Di samping itu, Proposal Damai Arab Saudi disampaikan ketika aksi kekerasan
Israel-Palestina mencapai titik terburuknya sejak Intifada Al Aqsa pada 28 September 2000. Proposal itu sendiri merupakan
pengembangan inisiatif damai yang pernah dilontarkan Raja Fahd 20 tahun
berlalu. Ketika itu, Raja Fahd hanya siap mengakui negara Israel. Tetapi,
Pangeran Abdullah lebih jauh dari itu yakni menjalin hubungan normal dengan Israel
dalam semua aspek kehidupan. Aspek itu seperti ekonomi, politik, sosial,
budaya, wisata, dan sebagainya.
Diangkat sebagai Raja
Ia semakin leluasa menjalankan pemerintahan setelah
dinyatakan secara resmi sebagai raja Arab Saudi sejak wafatnya Raja Fahd bin
Abdul Aziz pada 1 Agustus 2005.
Sementera, Menteri Pertahanan Sultan bin Abdul Aziz
dinyatakan sebagai pangeran mahkota. Di bidang sosial-politik, Abdullah
menyelenggarakan dialog nasional yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat
dan menggelar pemilihan langsung anggota kota praja (Dewan Konsultatif) secara
nasional awal tahun 2005. Ia juga membuka kesempatan kepada para pemodal asing
untuk menanamkan investasi di bidang eksplorasi dan produksi gas.
Ia diresmikan menjadi Raja pada 3 Agustus 2005. Abdullah juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Komandan Garda Nasional
Saudi. Dia diberikan jabatan Komandan Garda Nasional Saudi pada
tahun 1963 dan jabatan Wakil Perdana Menteri pada Juni 1982.
Dari empat istrinya lahir sepuluh putra dan 10 putri. Sebelum menjadi komandan
Garda Nasional, ia menjabat Wali Kota Mekkah. Ia dikenal dekat dengan rezim
barat dalam memusuhi pejuang Islam yang lurus. Gaya hidup para pangeran negeri
Arab yang biasanya lekat dengan banyak wanita dan kehidupan gemerlap juga
tersemat di dirinya.
Pada 22 Oktober 2011,
pangeran mahkota Sultan bin Abdul Aziz
meninggal dunia di New York, Amerika Serikat karena sakit. Posisi ini kemudian dilimpahkan
kepada saudaranya dan juga saudara raja, Pangeran Nayef bin Abdul Aziz
yang juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Arab Saudi. Namun pada 16 Juni 2012, pangeran mahkota Nayif bin Abdul Aziz
pun meninggal dunia di Swiss karena sakit, setelah baru setahun
menjadi Pangeran Mahkota Arab Saudi[4]. Kemudian, Pangeran Salman bin Abdul Aziz,
Menteri Pertahanan dan
juga adik Raja Abdullah bin Abdul Aziz dibobatkan sebagai pewaris tahta
pada 18 Juni 2012[5].
Abdullah dari Arab Saudi
Lahir: 1924
|
||
Gelar pemerintahan
|
||
Didahului oleh:
Fahd |
Raja Arab Saudi
2005 – Sekarang |
|
Perdana Menteri Arab Saudi
2005 – 2011 |
||